ads

ANALISIS ISI SALURAN PENCERNAAN



LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERIKANAN
ANALISIS  ISI SALURAN PENCERNAAN



Oleh

LIZA PUSPITA SARI

UNRI
LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKAN BARU
2007
  


1 . PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
             Perairan umum Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar untuk sector sebab luas perairan umum yang ada sekarang mencapai 13.76 juta hektar, diliputi rawa-rawa termasuk sungai besar dan daerah banjir seluas 11.95 juta hektar, danau alam seluas 1.78juta hektar dan danau buatan atau waduk seluas 0.03 juta hektar. Selanjutnya dinyatakan bahwa perairan umum telah memberikan sumbangan tidak sedikit bagi masyarakat luas dalam bentuk  produksi ikan yang dihasilkan rata-rata 280.000 ton setiap tahunnya atau 67.6% dari seluruh perikanan darat (1960-1979) dengan nilai rata-rata 48.6 milyar rupiah (1973-`1978) dan melibatkan sebanyak 402.000 masyarakat nelayan ( Dirjen Perikanan, 1982).
             Dalam mempelajari Biologi Perikanan  kita menganalisa isi saluran pencernaan pada ikan yang terdiri dari mulut, oesofagus, lambung, intestinum, dan anus. Menurut Effendi (1972). Menyatakan bahwa alat pencernaan pada ikan meliputi mulut, rongga mulut, pharynk, esophagus, intestinum, dan anus. Organ yang melengkapi pencernaan  makanan yaitu hati (hepar), dan pancreas yang menghasilkan getah kelenjar langsung kedalam sisitem ini. Selain organ tersebut, pada beberapa ikan dilengkapi dengan pyloric caeca yang jumlahnya bervariasi pada bebagai ikan.
Salah satu jenis ikan air tawar yang potensial untuk dikembangkan ialah ikan nila. Ikan ini merupakan salah satu spesies yang mampu beradaptasi terhadap kondisi perairan yang marginal, seperti derajad keasaman perairan yang relatif rendah dan adanya dominasi ikan-ikan yang yang sering menimbulkan masalah di perairan umum. Disamping itu ikan nila umumnya jarang terserang penyakit atau parasit. Kalaupun ada penyakit yang menyerang tidaklah berbahaya (Hardjamulia, 1978). Ikan ini juga merupakan salah satu ikan ekonomis penting yang ada di perairan tawar (Djajadirredja, et al., 1977.

1.2 Tujuan dan Manfaat
            Praktikum mengenai ” Analisa isi saluran pencernaan’’ untuk  mengetahui secara umum makanan alami ikan dan untuk mendalami pengetahuan tentang kebiasaan makan ikan ini selain mengamati isi kandungan saluran pencernaan baik itu bentuk, posisi dan ukuran mulut dan lain sebagainya.
           Sedangkan manfaat yang di dapat adalah mahasiswa dapat mengetahui cara mengambil dan  mendapatkan makanan yang bervariasi maka Janis makanannya juga bervariasi.




II. TINJAUAN PUSTAKA

              Menurut sejarahnya, ikan nila berasal dari Benua Afrika. Jenis ikan ini banyak terdapat di sungai Nil (Achmad Mujiman, 1986).
            Djuhanda (1981) mengklasifikasikan ikan nila ke dalam kelas Osteichthyes, ordo Percomorphi, famili Chiclidae, genus Oreochromis, dan spesies Oreochromis niloticus.
Menurut Susanto (2003)  ciri-ciri dari ikan nila adalah bentuk tubuh pipih ke samping memanjang, garis vertikal 9-11 buah, garis-garis pada ekor berwarna merah sebanyak 6-12 buah. Pada sirip punggung terdapat juga garis-garis miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar, dengan bagian tepi mata berwarna putih. Badan relatif tebal dan kekar dibanding mujair. Garis lateralis (tengah tubuh) terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak ke bawah.

IKAN NILA

 
Gambar 1.Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

  Menurut (Suprayitno,1991). Jenis makanan yang dapat diberikan pada ikan terdiri atas dua jenis yaitu makanan alami dan makanan buatan, makanan alami merupaka jasat-jasat hidup yang sengaja dibudidayakan untuk diberikan pada ikan sebagai sumber kalori, sedangkan makanan buatan merupakan formulasi dari berbagai bahan yang dikonsumsi menurut kebutuhannya.
Kebutuhan ikan akan energi untuk metabolisme dipengaruhi antara lain oleh kebiasaan makanan yaitu karnivor, herbivora dan omnivor, ikan herbivora dan memakan plankton nabati jumlah konsumsi harian makanannya berbobot lebih banyak dari pada ikan karnivora, hal ini disebabkan makanan nabati nilai kalorinya lebih rendah dari bahan makanan hewani, selain itu kandungan air bahan nabati lebih tinggi dari bahan hewani menurut (Mujiman, 1984). 
Ikan nila merupakan ikan yang sangat rakus dan pemakan segala (omnivora) dan bisa hidup diantara dataran rendah dan dataran tinggi, diair tawar serta diair payau (Soesono, 1984), selanjutnya menurut Susanto (1987) diperairan bebas, ikan nila memakan plankton, periphyton, dan tumbuh-tumbuhan lunak.
Pencernaan secara mekanis dimulai dari bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi dalam proses pemotongan dan penggerusan makanan, kemudian dilanjutkan kebagian lambung dan usus yaitu dengan adanya gerakan-gerakan (kontraksi otot pada bagian tertentu). Pencernaan secara mekanik yang terjadi pada lambung dan usus akan terjaidi secara lebih efektif karena adanya bantuan aktivitas cairan digestif. Pencernaan secara kimiawi dimulai dibagian dimulai dibagian lambung. Hal ini disebabkan Karena cairan digestif yang berperan dalam pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan dibagian lambung. Pencernaan ini selanjutkan disempurnakan oleh usus. Cairan digestif yang berperan dalam pencernaan dibagian usus berasal dari hati, pancreas, dan dinding usus itu sendiri, (Affandi Et Al, 1992)

III. METODE PRAKTIKUM  



3.1 Waktu dan Tempat


           Praktikum Biologi Perikanan mengenai ‘Analisa isi saluran pencernaan’ dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 25 juli 2007 pukul 14.00 sampai selesai. Di laboratorium Biologi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

3.2.   Bahan dan Alat`
              Bahan yang digunakan pada Praktikum ini adalah  tiga ekor ikan nila. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah nampan untuk meletakkan ikan, alat-alat tulis seperti pena, pensil, penghapus, penggaris 30cm yang juga digunakan untuk mengukur morphometrik ikan., jarum yang digunakan sebagai alat untuk menunjukkan letas usus , pisau untuk memisah saluran percernaan dengan jaringan - jaringannya. Penjepit untuk menjepit  saluran pencernaan dan digunakan seperlunya.  Cawan petri untuk meletakkan  sari-sari makanan yang akan dilihat dibawah mikroskop, pipet tetes untuk menambah kurangkan air yang kurang kedalam cawan petri ,mikroskop dan pelengkapnya untuk  mengetahui apa saja makanan ikan, gunting untuk memamisahkan usus dengan jaringannya, Selain itu juga diperlukan lap tangan. Dan buku laporan sementara. 

3.3    Metode Praktikum
              Adapun metode praktikum mengenai  ‘Analisis isi saluran pencernaan’ sebagai objek dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap objek tersebut dan dilakukan dengan menggunakan metode  jumlah yaitu dengan jalan memperhitungkan individu organisme serta benda-benda yang lain yang terdapat didalam alat-alat pencernaan,satu persatu dipisahkan spsies demi spesies. yang dilakukan dilaboratorium dengan bantuan buku petunjuk praktikum Biologi Perikanan. Disamping itu juga dilakukan studi literature yang berhubungan dengan praktikum ini.

3.4 Prosedur  Praktikum
Prosedur yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut, meletakkan ikan sampel pada nampan, menggambarkan ikan dalam buku laporan sementara, mencatat ciri-ciri ikan, lalu menghitung morphometrik TL (mengukur panjang total), panjang fork (FL), panjang kepala (Hdl), lebar badan (Bdh), dan berat ikan. Mengukur bukaan mulut, menentukan posisi dan bentuk mulut, menggambarkan  jenis gigi dan melakukan pembedahan ikan tersebut sehingga terlihat alat pencernaannya, menggambarkan susunan intertinum didalam rongga perut,menentukan kriteris saluran pencernaan, memgeluarkan, mengamati dan mengidentifikasi jenis makanan alami yang terdapat dalam saluran pencernaan, dan menghitung jumlah jenis makanan yang terdapat pada saluran pencernaan.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN



 

4.1 Hasil
Djuhanda (1981)  mengklasifikasikan ikan nila ke dalam kelas Osteichthyes, ordo Percomorphi, famili Chiclidae, genus Oreochromis, dan spesies Oreochromis niloticus.
Dari hasil pengamatan saluran pencernaan pada ikan nila sangat panjang membentuk suatu kumparan. Dari hasil pengukuran didapat data sebagai berikut.
Tabel 1. Data morphometrik dan panjang saluran pencernaan ikan nila  
               ( Oreochromis niloticus )
     
Ikan
Tl (mm)
Sl
(mm)
BdH
(mm)
HdL
(mm)
Bukaan Mulut
(mm)
Panjang Saluran  Pencernaan
(mm)
1
170
150
70
50
18
145
2
150
127
59
37
18
147
3
162
132
55
55
18
155

Kemudian dari hasil pengamatan  posisi mulut ikan nila terletak dibawah garis mata,jenis gigi filiform ,serta susunan insang merapat.
Adapun jenis gigi pada ikan nila yaitu berupa gigi villiform yang dapat dilihat dibawah ini :

 





Gambar 2. Jenis gigi ikan Oreochromis niloticus.
Ikan nila merupakan ikan yang sangat rakus dan pemakan segala (omnivora) sehingga dapat dilihat gambar intestinum dibawah ini :






Gambar 3. Intestinum ikan Oreochromis niloticus
Dari hasil pengamatan dibawah mikroskop didapat beberapa jenis makanan ikan nila yaitu Bacillaria paradoxa,jumlahnya7,Euglypha acanthophora, hanya 1 ,begitu juga dengan Stauroneis parvulim. Dimana gambarnya seperti dibawah ini.

           









Gambar 4. Bacillaria paradoxa


















.
Gambar 5. Euglypha acanthophora,















           


Gambar 6. Stauroneis parvulim

4.2 Pembahasan
Susanto (1987), megatakan bahwa ikan nila merupakan ikan sungai atau danau yang sangat cocok dipelihara pada perairan yang tenang, kolam maupun reservoir. Toleransi terhadap kadar garam sangat tinggi, selain pada perairan tawar ikan ini juga sering hidup dan berkembang pesat pada perairan payau.
Makanan adalah salah satu factor biotic yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan insekta. Ketersediaan makanan yang mencukupi dapat memberikan pertumbuhan yang baik pada insekta, karena dapat meningkatkan jumlah reproduksi telurnya. Menurut Gillot (1982) bahwa rata-rata reproduksi telur dan jumlah produksi telur nampak menyolok karena ketersediaan makanan. Jumlah makanan yang tersedia merupakan pengaturan yang paling penting dalam kelimpahan insekta
Ikan nila merupakan ikan yang sangat rakus dan pemakan segala (omnivora) dan bisa hidup diantara dataran rendah dan dataran tinggi, diair tawar serta diair payau (Soesono, 1984), selanjutnya menurut Susanto (1987) diperairan bebas, ikan nila memakan plankton, periphyton, dan tumbuh-tumbuhan lunak.
Kebiasan makan ikan (food habit) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan. Didalam suatu perairan besarnya populasi ikan ditentukan oleh makanan yang tersedia. Mudahnya tersedia makanan dan lama masa pengambilan makanan oleh ikan didalam populasi tersebut. Makanan yang telah digunakan akan mempengaruhi sisa persediaan makanan dan sebaliknya makanan yang telah diambilnya akan mempengaruhi pertumbuhan serta keberhasilan hidupnya (effendie, 1998). Soeroto (1988) menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas makanan ikan tergantung pada ketersediaan makanan tersebut dialam.
Dalam analisis isi saluran pencernaan padan ikan nila diketahui bahwa ikan nila lebih dominan memakan Eunotia tetrodon mungkin plankton ini makanan yang digemari oleh ikan nila dan juga plankton ini mampu berkembang biak sesuai habitatnya, karena didapati pada setiap lapangan pandang.
 Sedangkan Mastoglia lanculata juga banyak dikonsumsi oleh ikan nila, mungkin plankton ini juga merupakan plankton yang digemari oleh ikan nila dan mudah didapati diperairan.  
Semua organisme untuk kelangsungan hidupnya butuh akan makanan, makanan diambil dari bahan-bahan yang telah tersedia, berdasarkan makanan yang dimakan kita dapat membedakan adanya ikan karnivora, herbivora, ikan pemakan kotoran dan ikan omnivora. Banyak jenis makanan untuk ikan yang dapat tidak terbatas (Djuhanda, 1981), Ditambahkan Lagi Oleh Sukanto (1982), bahwa ikan nila bersifat mikrophage dan omnivora yang artinya memakan segala macam makanan yang berukuran kecil misalnya plankton dan detritus.
.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum  Analisis isi saluran pencernaan dapat disimpulkan bahwa secara garis besar susunan saluran pencernaan pada ikan terdiri dari mulut, oesofagus, lambung, intestinum dan anus. Oleh karena susunan saluran pencernaan, bentuk mulut dan gigi, bentuk dan ukuran lambung serta intestinum yang dimiliki setiap jenis ikan bervariasi, maka menyebabkan setiap spesies ikan cara pengambilan makanannya juga bervariasi.
Ikan nila merupakan ikan yang sangat rakus dan pemakan segala (omnivora) sehingga dapat dikatakan juga panjang tubuh ikan mempengaruhi pergerakkan ikan dan makanan yang didapati dan ukura intestinum ikan, dan pada ikan yang besar dapat dengan mudah melihat jenis makanan alami yang dimakannya.
Pada ikan nila yang dominan plankton yang dimakannya yaitu Bacillaria paradoxa,jumlahnya7,Euglypha acanthophora, hanya 1 ,begitu juga dengan Stauroneis parvulim.

5.1 Saran
Pada praktikum ini untuk mengeluarkan isi saluran pencernaan dengan baik maka jangan biarkan usus kering, karena apabila usus kering maka isi dari saluran pencernaan akan sulit keluar dan usus mudah terputus.    


DAFTAR PUSTAKA


Affandi, r. Subarja, d s., rahardjo, m, f., dan sulistiono . 1992. fisiologi ikan – pencemaran. Institut pertanian bogor.

Dinas Perikanan Tingkat I Propinsi Riau. 1982. Buku Tahunan statistik II. I. Press. Jakarta. 393 hal.

Djuhanda, t., 1981. Dunia ikan. Amrico. Bandung.

Djajadireja, r., s. Hatimah dan z. Arifin. 1977. Buku pedoman pengenalan sumberdaya perikanan darat bagian I. Dtjen perikanan. Jakarta. 96 hal.

Effendie, m.i. 1972. Biologi perikanan. Yayasan pustaka nusantara. 173 hal

Effendi, m. I. 1998.  Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta.                               
            159 Hal.

Gillot, c. 1982. Entimologi. Plenum press new york and london. London 729 hal.

Hardjamulia,  a., 1978. Budidaya perikanan. Departemen pertanian. Bplpp. Sekolah usaha perikanan, bogor. 58 hal.

Mujiman , a. 1984. Makanan  ikan , penebar swadaya , jakarta . 160 hal.

Soeroto, b. 1988.  Makanan dan reproduksi ikan payangka (ophioleptris opunus  blkr ) didanau tondano, tesis pasca sarjana institut pertanian bogor. Bogor 205 hal (tidah diterbitkan.

Soesono, s. 1984.  Dasar-dasar perikanan umum. Yasaguna. Jakarta. 155 hal.

Sukanto, b. 1982. Membudidayakan ikan  nila dengan cara polikultur. Trubus, no 147 (XIII): 75 hal.

Suprayitno, s.h. 1991. Kultur makanan alami informasi manual, seri  no  18 bbat sukabumi, 71 hal.

Susanto, h. 1987. Budidaya Ikan Dipekarangan. Penebar swadaya, Jakarta. 147
                        Hal.





9 comments:

Komentar

Silahkan Tinggalkan komentar, demi memberi motivasi saya dalam mengurus blog ini. Komentar tanpa submit CAPTA,serta blog ini Dofollow...

Popular Posts