ads

Referensi Mengenai Morfologi Insang Ikan



Ikan adalah hewan yang hidup   berdarah dingin mempunyai tulang belakang bergerak dengan sirip dan bernafas dengan insang. Insang merupakan komponen penting dalam pertukaran O2 ke CO2. Insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras, dengan beberapa lamella insang didalamnya. Tiap-tiap lamella primer insang terdiri atas banyak lamella sekunder. Lamella sekunder tersusun atas sel-sel epitel tipis bagian luar, membran dasar dan sel-sel tiang sebagai penyangga pada bagian dalam. Pinggiran lamiella sekunder yang tidak menempel pada lengkung insang sangat tipis, ditutupi oleh epitelium dan mengandung jaringan pembuluh darah kapiler (Fujaya, 2004). 

Insang Ikan


      Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) tedapat 4 pasang insang yang berkembang dengan sempurna. Sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) dan Agnatha, insang lebih dari 4 pasang. Insang terletak di bagian kepala ikan dan posisinya melebar dari dinding dorsal pharink ke arah ventral. Insang dilindungi oleh tutup insang atau operculum. Struktur insang dapat dibedakan menjadi 3 bagian utama yaitu:

1.    gigi-gigi insang (gill raker): gigi-gigi insang melekat pada lengkung insang, di sisi  anterior (yaitu bagian yang berhubungan langsung dengan rongga mulut). Gigi-gigi insang ini dapat berupa kait-kait atau bentuk seperti duri yang keras. 

2.    lengkung insang: merupakan suatu struktur bertulang yang keras dan merupakan tempat melekatnya gigi-gigi insang serta lamella primer  insang. 

3.    lamella insang: lamella insang ini merupakan struktur yang lunak, berwarna merah segar, mempunyai permukaan yang luas dan merupakan tempat utama terjadinya proses respirasi (Windarti et.,al , 2010).

            Bila ikan terserang penyakit atau terpapar pada kondisi yang tidak menguntungkan, perubahan yang terjadi antara lain berupa:

1.              Proliferasi sel: sel-sel epidermis akan berproliferasi/ memperbanyak diri sehingga epidermis menebal dan lamella sekunder yang satu akan bergabung dengan lamella sekunder yang lain (melebur/ fused lamella). 

2.              Hypertrophy: pada hypertrophy ini sel-sel pada lamella sekunder membesar, tetapi jumlahnya tidak bertambah. Akibatnya lamella sekunder menjadi tebal dan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

3.              Hyperplasia: sel-sel pada lamella sekunder bertambah banyak, lamella sekunder menjadi lebar/ besar

4.              Teletangiectasis: ada pelebaran pada bagian distal dari lamella sekunder, sehingga lamella sekunder ini berbentuk seperti raket untuk badminton

5.              Kongesti: ada pelebaran pembuluh darah dan di dalam pembuluh tersebut penuh berisi darah (melebihi kapasitas normal)

6.              Hemoragi: bila kongesti sudah sangat parah, maka pembuluh darah akan pecah dan darah berada pada tempat yang tidak semestinya.

7.              Odema/ pembengkakan: ada suatu bagian yang terisi cairan sehingga bagian tersebut membesar dan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. 

8.              Nekrosis/ kematian sel: ada suatu sel / sekelompok sel yang mengalami perubahan atau mati. Sel yang mengalami nekrosis tersebut dapat dikenali dari bentuk intinya yang mengecil, membesar, kabur atau hilang, atau dikenali dari sitoplasmanya yang hilang sehingga tidak mengisap zat warna yang diberikan dalam proses pembuatan preparat histologi

9.              Atrophy / lisut: sel-sel pada lamella sekunder mengalami atrophy / lisut, sehingga lamella sekunder hanya nampak seperti benang yang tipis kecil. Kondisi seperti ini pernah dijumpai pada ikan yang dipaparkan dalam limbah pabrik kelapa sawit (Windarti et al., 2005).



DAFTAR PUSTAKA

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Rineka Cipta. Jakarta. 179 halaman.

Windarti. 2010. Fisiologi Hewan Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru.
 


6 comments:

Komentar

Silahkan Tinggalkan komentar, demi memberi motivasi saya dalam mengurus blog ini. Komentar tanpa submit CAPTA,serta blog ini Dofollow...

Popular Posts